Ig @wening_mahira
Popular Posts
Labels
- Cerita Curhat (11)
- Cerita Kegiatan (2)
- Cerita Langkah Kaki (25)
- Cerita Mirip Novel (4)
| View Desa Tongging sering juga di sebut New Zealandnya Tanah Karo |
![]() |
| Hutan Mati Papandayan |
![]() |
| Hamparan Edelweiss |
Beruntung ada plat
kuning sehingga mudah untuk membedakan yang mana transportasi umum dan mana
yang milik pribadi. Kendaraan pribadi dan umum sama bentuknya di Toraja. Destinasi berikutnya adalah Enrekang sekitar
3 jam jarak waktu dari Toraja. Berhubung naik transportasi umum, di butuhkan
waktu lebih dari 3 jam dan beberapa kali ganti angkutan. Dari Rantepao, ke pusat kota Toraja, kemudian
ke Cakke dan kemudian Enrekang. Setibanya
di Enrekang sudah sore. Udaranya dingin, karena masih terletak di dataran
tinggi. Beruntungnya hari ini tidak hujan. Tidak banyak yang bisa di lakukan,
apalagi hari sudah mulai gelap. Sehabis makan malam, saya di ajak untuk
menghadiri pesta pernikahan. Kebetulan saya tinggal di rumah penduduk Enrekang.
Pukul delapan kami sampai di tempat
pesta, banyak makanan yang di sajikan khas Sulawesi ada coto dan ada kue-kue
tradisional. Sambil ngemil saya
memperhatikan keadaan pesta sekitar, ada pemain musik dan penyanyinya dan sanak
keluarga serta orang kampung yang sibuk mengambil makanan dan menikmatinya.
Pandangan saya tertuju pada pengantin, dia sendiri tanpa ada pria pendamping.
Dalam hati saya berpikir mungkin sedang ke toilet pengantin prianya. Hampir
setengah jam saya perhatikan, masih saja pengantin perempuannya sendiri. Penuh
rasa penasaran saya bertanya pada tante yang mengajak saya, di mana pengantin
prianya, wah ternyata pada saat pesta ini pengantin prianya tidak hadir.
Pengantin pria hanya hadir di saat akad nikah nanti dan diadakan resepsi sekali
lagi. Yang saya hadiri saat ini adalah resepsi sebelum menikah. Wah, baru
pertama kali saya lihat seperti ini. Berbeda lokasi berbeda budaya, unik tapi
menyenangkan.
Kabupaten Enrekang
terkenal dengan hasil pertaniannya, sepanjang jalan pulang ke rumah saya
melihat penduduk sekitar sedang merapikan bawang merah hasil panen, lagi musim
katanya. Satu lagi yang khas dari daerah ini Dangke, keju lokal Enrekang, hasil
fermentasi susu yang biasa di jadikan lauk atau di makan langsung. Keterbatasan
waktu membuatku tidak bisa menjelajahi semua bagian kabupaten ini, di pagi hari
yang cerah saya habiskan di “resting” tempat peristirahatan yang terletak di
pinggir jalan. Pemandangan yang di
suguhkan benar-benar membuat nyaman, salah satu gunung yang terkenal adalah Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini
terkenal karena bentuknya yang unik, yaitu menyerupai alat kelamin perempuan
dan sering di sebut Gunung Nona.
Dominasi warna hijau, langit biru dan barisan gunung dan bukitnya
sempurna. Sepanjang jalan menuju resting pemandangannya juga tidak kalah
bagusnya. Keren!!!
Sebuah desa yang masih
dalam ruang lingkup kabupaten ini menjadi salah satu tujuan utamaku yaitu Desa
Bone Bone yang berjarak 50 km dari Enrekang.
Hal yang sangat menarik ini adalah satu-satunya desa yang bebas asap
rokok, penghasil kopi dan beras pulut mandotti.
Pak Idris adalah pencetus awal menciptakan desa bebas rokok, awalnya
sangat sulit, secara bertahap melalui musyawarah semua penduduk sepakat dengan
idenya. Pak Idris juga sering di undang
dalam pertemuan nasional bahkan internasional berkaitan dengan prestasi desa
bebas asap rokok. Kopi menjadi salah satu yang selalu di promosikan Pak Idris,
kopi hasil Bone Bone enak rasanya dan pernah menang sebagai juara 1 kopi
arabica terbaik saat kontes kopi di Bali pada tahun 2008.
Perjalanan kemudian kami lanjutkan, dengan tujuan ke Lokomata yang merupakan kuburan batu yang masih di pakai hingga sekarang. Batu-batu dengan ukuran besar di lubangi untuk menyimpan jenazah dan terletak di pinggir jalan, berbeda dengan kuburan batu lainnya seperti Londa dan Lemo. Di daerah ini, kita harus berhati-hati untuk duduk atau melompati batu-batu besar yang ada, karena dominan batu tersebut adalah kuburan. Bori Parinding adalah tujuan kita berikutnya, disini kita bisa melihat batu menhir dalam jumlah yang cukup banyak. 
Diluar dugaan kita menemukan lokasi kuburan bayi, seperti Bayi Kambira di Tana Toraja. Wah, aku senang bukan main, penasaran rasanya ingin lihat pohon yang di jadikan kuburan, di sini namanya Pana. Berjalan lebih kurang 25 meter memasuki hutan kita bisa menemukan pohon yang di pakai untuk di jadikan kuburan.
Kami kembali ke kota bersama dengan Ibu Linpas, jalannya lebih dekat dan ternyata benar kami mengelilingi lereng gunung seharian ini. Di depan setiap Tongkonan batu utama ada tongkonan yang di pakai sebagai tempat penyimpanan padi (di jadikan lumbung padi). Setiap tamu yang datang akan di jamu di tongkonan batu utama, tetapi bila ada masalah dalam rumah tangga, maka keluarga akan bertemu dan bermusyawarah di tongkonan yang di pakai sebagai lumbung padi. Ibu Linpas bercerita banyak tentang tongkonan, tidak hanya itu kami di ajak untuk mengunjungi tongkonan milik keluarga mereka dan bisa di pakai untuk menginap lho. Pemandangan di sekitar tongkonan batu juga ga kalah menarik. Keren!! Sesampai di kota, kita di ajak untuk makan mi ayam. Ah ternyata ada mi ayam juga di sini, dan taadaaaa ini mi sop kalo di medan. Bihun dengan kuah ayam dan daging ayam goreng di suir halus serta dengan rasa yang engga jauh berbeda. mengobati sedikit kerinduanku tehadap Medan asalku. hehe.. Kami pun berpisah karena masing-masing akan melanjutkan perjalanan dengan tujuan yang berbeda. Aku sendiri akan menuju ke Enrekang.
Gimana yak rasanya ada di dalam gua yang di penuhi dengan tengkorak ataupun di dalamnya ada mayat manusia yang baru meninggal? Humm apa mereka engga seram yak di dalam? Ini pemikiranku tiap melihat liputan tentang daerah Toraja yang berada di Sulawesi Selatan. Tiap habis nonton liputan ini aku selalu ucap dalam hati "suatu saat aku harus di sana dan tau rasanya gimana". Niat!!
Maret 2014 setelah reschedule jadwal pesawat beberapa kali sampai juga aku di Makassar, gerbang utama Pulau Sulawesi, salah satu bandara yang paling bagus sebelum bandara Kota Medan di Indonesia. Miniatur kapal Phinissi di beberapa titik bandara yang merupakan ciri khas pulau ini, di mana orang Bugis adalah yang paling terampil untuk pembuatannya. Temen baru lagi pastinya, ada Ko Mike dan Ci Vi serta Hamka (ni yg punya kampung di Makassar), ada teman Ko Mike juga Ko Hendro yang jemput kita dari bandara dan anterin sampai rumah Hamka serta beliin kita cemilan. Satu hari ini di Makassar mampir ke Pantai Losari, tepat di pinggir kota dan kotor. Dekat dengan tempat bersejarah Benteng Rotterdam yang kalau di lihat dari atas mirip bentuk penyu. Ketemu juga sama anak yang satu kampung dengan aku bahkan satu sekolah, dan baru ketemu di jejaring sosial serta janjian di Makassar. Ajaib yak media sosial, halo Jun ^^. Sebelum semua-semuanya kita udah beli tiket bus Bintang Prima untuk ke Tana Toraja, seharga Rp. 140.000 dengan lama perjalanan sekitar 9 jam. Aku rasa ini engga mahal, karena bus nya nyaman banget, luas dan adem. Jam 10 malam bus mulai jalan, dan yeahhh Tana Toraja aku datang. Bus menuju Toraja adalah bus yang paling terkenal kenyamanannya, bener banget, luas, lapang dan bebas selonjoran serta empuk. Tidak bisa memperhatikan jalanan kali ini, gelap. Satu lagi yang aku inget dengan kota ini jalanannya lebar-lebar.
Jam 6 pagi tiba di Toraja, yeayyy selamat datang di Tana Toraja. kita ga perlu cari penginapan lagi karena sepupunya Hamka sudah menjemput dan kita akan nginap di rumah mereka. Wah beruntung yak, rumahnya ada tepat di tengah kota. Hari ini kita mulai merencanakana kan kemana, setelah mandi dan beberes kita mencari tempat penyewaan motor, seharinya Rp75.000. Siap untuk berangkat. Kete Kesu menjadi tujuan pertama kita, sejumlah rumah Tongkonan berderet di sini lengkap dengan tanduk kerbau yang menghiasi bagian depan rumah. Berjalan sedikit ke arah belakang ahaaa ada kandang tedong, tedong itu sebutan untuk kerbau yang di sembelih, semakin sedikit warna hitam di tubuh tedong harganya semakin mahal (tedong bonga sebutannya, mungkin kalo menurut ku pribadi ini adalah kerbau albino, cuma ini ras khusus katanya). Di paling belakang ada tebing batu dan ternyata ini ada lah kuburan batu. Jalan menanjak, dan di tepi tebing kita disuguhi peti mati batu serta tumpukan tulang-tulang manusia yang usianya uda lama banget. Merinding sih awalnya, cuma jadi terbiasa deh. Beberapa kepala tengkorak di susun dengan rapi mungkin untuk mengurangi rasa seram. Akhirnya yak aku lihat tengkorak asli. Di puncak tebing ada goa, dalamnya gak kalah membuat merinding, banyak peti mati, sama seperti di atas tulang dan tengkorak berserakan, hanya saja di sini di lengkapi dengan beberapa barang yang ternyata ini adalah milik orang yang sudah meninggal sebelumnya. Di dalam goa bila mau kita bisa masuk lebih dalam lagi, ada mayat orang yang baru 3 bulan meninggal, tapi aku menolak untuk melihat, terlalu gelap untuk ke atas. Bisa-bisa aku pingsan karena gelapnya bukan karena mayatnya.
Londa, tujuan setelah Kete Kesu. Kita meraba jalanan sambil bertanya kepada penduduk setempat, karena ada beberapa lokasi yang engga ada petunjuk. Londa juga tebing batu yang di jadikan kuburan, tinggi banget dan aku kagum, sumpah! Tebing ini dipakai menjadi kuburan hingga di bagian atasnya, bayangkan gimana ngangkat peti nya. Disini butuh guide untuk masuk, Rp.30.000 untuk sewa lampu petronas dan tip buat guide yang anter. Menyenagkan sekali kami dapat bapak guide yang ramah, bisa motoin dan cerita banyak hal. Nah bagian paling atas tebing adalah untuk golongan bangsawan, di sini bangsawan di sebut golongan darah putih, dan setiap orang yang meninggal di buatin replika bonekanya dari kayu nangka yang di sebut tau-tau. Bagian paling bawah adalahuntuk kalangan masyarakat biasa. Londa sangat mengagumkan, kita di ajak untuk memasuki perut gua, biasanya aku amsuk ke gua kelelawar kali ini aku masuk ke gua yang berisi mayat dan tulang. beberapa spot foto di tawarin sama guide, dan tiap poto aku ga sadar ternyata di belakang atau samping bahkan atas itu ada tengkorak dan peti mati. Tapi ga ada rasa takut sedikit pun, dan aku sangat tertarik. Ada tengkorak romeo dan juliet juga disini, di mana mereka semasa hidup saling mencintai tapi tidak bisa bersama karena berbeda golongan. Senang banget rasanya, dulu aku cuma liat di tivi dan sekarang ada di depanku bahkan bisa ku sentuh. Saat keluar guidenya menawarkan mau lewat goa ketawa? Kita bingung kenapa ketawa, bapak cuma jawab lewat dulu baru tau. Okey, kita lewat goanya panjang 20 meter dan harus di lewati dengan merangkak. Selama merangkak semuanya ketawa, ketawa karena sempit, karena harus merangkak dan alasan apapun sehingga di sebut goa ketawa. Sampai di pintu goa ketawa, tetep pemandangannya tengkorak yang disusun rapi di atas batu. Keren!!! Di Londa dari berempat kita jadi berdelapan, ada kenalan orang baru yang kebetulan main ke sana.
Lemo, juga merupakan kuburan batu, masih juga di tebing tapi engga setinggi Londa. Ketika kami sampai di sini, pakaian tau-tau yang ada di depan tebing baru saja di ganti dengan pakaiana baru. Kuburannya kelihatan jelas karena di tebingnya sudah ada kotak-kotak yang merupakan pintu kecil. Sedikit menyesal yak, harusnya datang ke Toraja bersamaan dengan kunjungan Bapak Presiden, banyak acara dan ada acara manene juga. Manene adalah acara adat orang Toraja, yaitu mengganti pakaian leluhur yang sudah meninggal. Tepatnya bagaimana aku kurang tahu, bingung mau tanya ke mana, di Lemo ga ada guide. Tapi ada beberapa sumber yang aku baca, bahwa acara manene ini adalah dengan membangunkan jenazah, kemudian dia akan berjalan sendiri keluar dari makamnya. Semacam zombie, dan aku berharap suatu saat bisa menyaksikan acara ini. Untuk sekarang mungkin sudah mulai tidak ada kata mamanya Hamka. Acara Manene sekarang sudah engga ada jenazah berjalan Di daerah Lemo, aku beli kain khas Toraja. Asik kain tenun asli dengan budget lumayan. hehehe.