Kesederhanaan, Kearifan Lokal dan Harmonisasi Alam Desa Kanekes (Bagian 1)

/
0 Comments

Ini dia Foto yang buat Penasaran
"Hey, itu foto kamu waktu masih kecil ya Bay?", tanyaku pada Bayu lewat YM. Ini awal aq tahu tentang suku Pedalaman Baduy. Foto anak kecil di profil Bayu sangat menarik perhatianku. Mukanya enak dilihat dan pakaiannya sederhana dan sebuah kain biru di pakai di leher. Tapi itu bukan Bayu, dia anak Baduy. Sedikit tentang Bayu, aku dan dia berteman dari komunitas Backpacker Indonesia, dan saat itu sharing identitas yahoo messenger. Bayu cerita tentang suku Baduy, dan jujur aq tertarik sekali, kemudian browsing di internet.

Orang Baduy ^o^
Suku pedalaman Baduy adalah salah satu suku asli Indonesia yang menutup diri terhadap dunia luar, artinya mereka masih hidup secara primitif di perkampungan yang terletak di dalam hutan dan berpegang teguh pada adat. Desa Baduy terletak di perbukitan Gunung Kendeng, kawasan Baduy tepatnya berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Bulan Juni tanggal 5 tahun 2013 berbekal tiket murah yg udah di beli dari bulan Februari 2013 diputuskan deh untuk berangkat ke Baduy. Awalnya ingin pakai tour mengingat saat itu sendiri. Jujur, beberapa kali ke Jakarta tapi aku masih gak paham wilayah sana, apalagi naik angkot atau bus. Setiap kesana  aku lebih memilih tidur daripada berenang dalam kemacetan.

Jalan Sore ini Hamka
Iseng ajakin Bayu, "ayo dong Bay berangkat", dan kebetulan saat itu libur dan dia mau. Jadilah kita berangkat, bye bye tour service hehe. Aku kasih tahu Hamka rencana ingin ke Baduy dan dia berminat juga untuk ikut.  Bayu temennya ada 3, Wika, Dannis dan Daniel, asyik deh biar rame. Hadeuh cowo semua dong, haha tapi ini gak mutusin niat aku untuk berangkat. Sebelumnya udah coba ajak-ajak juga yang cewek, tapi pada gak berminat.. Berangkat deh!!!!

Titik jumpa adalah Stasiun Kereta Tanah Abang Jakarta. Berhubung gak tau jalan Taxi jadi pilihan deh (jalan-jalan enak men). Sampai di stasiun antri beli tiket kereta, beli tiket kereta tujuan Serang, asyik naik kereta api, aku seneng dan suka banget . Perjalanan di tempuh selama 2 jam, kita turun di Stasiun Rangkas Bitung. Jalan di sekitaran pasar sebentar, ada sesuatu yang baru buat aku, ternyata itu gula aren, dari jauh terlihat seperti buah coklat bulat dan panjang. Gula aren di Medan itu bulat dan gak terlalu tebal serta gak di bungkus dengan daun bambu. Naik angkot menuju ke terminal Aweh. Perjalanan menuju Ciboleger sekarang, naik bus dan memakan waktu sekitar satu setengah jam sampai dua jam dengan tarif Rp.20.000 per orangnya.

Neng Rana dan Saya 
Jalanan menuju ke Ciboleger cukup bagus dan di kiri kanan di suguhi pemandangan alam,  mirip jalan mau ke Berastagi. Di tengah perjalanan ada penumpang yang naik dan turun, terlihat beberapa orang Baduy  sedang berjalan dan ada juga yang naik bus yang kita tumpangi. Ngantuk tapi aku coba untuk tidak tidur, ingin lihat sekitar, belum tentu juga aku akan balik dalam waktu dekat bukan. Sampai di tujuan yang pertama aku lihat Alfamart, toko elektronik dan rumah biasa. Ehh koq kota? Ternyata Ciboleger itu kecil dan merupakan daerah perbatasan terakhir menuju Baduy.

Penampakan Awal
Cari makan siang dulu, setelahnya beli sembako untuk di beri ke pemilik rumah tempat kita tinggal. Hehe aku heran nih, koq banyak orang yang lalu lalang, padahal ini kan suku pedalaman Baduy yang katanya orang luar dilarang masuk. Selesai makan kami berangkat menuju Baduy, horeeee keliatan tulisan sambutan selamat datang di Baduy dan larangan-larangan yang harus di patuhi oleh pengunjung. Kemudian terlihat rumah-rumah panggung sederhana tapi kokoh rapi tersusun. Selamat datang!!!!

Kita menuju ke rumah Kang Lambry, salah satu orang Baduy. Rumahnya kecil, sederhana dan nyaman. Yang buat aku kagum itu lantainya dari bambu yang di potong kecil tapi rapi, sama lebar dan sama panjang kemudian di ikat menjadi satu. Melalui celah antara bambu kita bisa langsung melihat tanah di bawah dan bisa di bayangkan nanti malam angin yang bertiup akan masuk dan menyerang badan. Berlebihan deh aku. Ngeteh dulu deh, sayang gak di minum uda di buatin sambil kenalan dengan pemilik rumah. Ada Neng Rana putri dari Kang Lambry, teteh sang istri dan ada Sarka adiknya yang jadi penujuk jalan ke Baduy dalam besok.



Narsis bareng di depan rumah Kang Lambry ^0^


Sambel Baduy
Bener-bener gak ada kerjaan mau ngapai juga bingung, dari pada bengong kita jalan-jalan sambil nyeker.  Jalanannya batu yang disusun jadi tangga dan tanah liat, pemandangan yang bisa di lihat adalah hutan dan puncak gunung, aku gak tau itu gunung apa, yang pasti itu indah. Eh trekking nyeker itu asik juga, tanahnya lembek dan gak di temukan pecahan kaca atau sesuatu yang bisa melukai kaki. Menikmati pesona kampung Baduy luar sampai sore hari dan saatnya makan malam di rumah Kang Lambry. Udah disipain telur dadar, timun , nasi putih dan sambel khas Baduy, enak banget.

Menikmati malam di Baduy sambil ngobrol, awalnya aku nimbrung karena obrolan selanjutnya uda ga nyambung aku memutuskan untuk tidur. Dan aku lihat Bayu udah tidur duluan, nyusul ah!! hehe.. Sepanjang malam kayanya aku terbangun beberapa kali, dan rasanya itu udah puas banget tidurnya tapi kenapa jam itu menunjukkan pukul 12 , 2 dan 4 dini hari. Huwehe malam di Baduy panjang banget, tidur sampe cape. Puas tidur deh pokoknya. Besok rencana jam 10 pagi perjalanan ke Baduy Dalam di mulai ^0^

Jalan-jalan Sore ini Bayu dan Wika ^0^



You may also like

No comments: