Tanjung Bira, Bulukumba

/
0 Comments
“Kalau ke Sulawesi Selatan jangan lupa kamu ke Tanjung Bira ya, pantainya bagus banget!”, pesan teman saya yang berasal dari Makassar.  

Tanjung Bira adalah daerah perairan di ujung Sulawesi Selatan tepatnya di Bulukumba. Kalau boleh jujur saya kurang tertarik dengan pantai, dan lebih tertarik dengan daerah pegunungan yang penuh dengan budaya seperti Toraja. Tetapi pada akhir perjalanan, saya sempatkan untuk mengunjungi Tanjung Bira.

Perjalanan yang di mulai dari Terminal Malengkeri Makassar di tempuh selama 6 jam berhubung bus yang saya gunakan kecepatannya lebih lambat dan cuma ada satu bus saja, Bus Aneka yang menuju ke Pualu Selayar. Sesampainya di dermaga Tanjung Bira, pemandangan yang saya peroleh sangat mengejutkan. Di luar dugaan, pantainya bagus sekali. Pasirnya putih dan warna air lautnya sangat mempesona. Dermaga ini adalah akses berikutnya untuk menuju Pulau Selayar. Saya berjalan kaki untuk menuju ke penginapan. Dan saya mulai jatuh cinta dengan pantai. 


Pesona ujung Sulawesi Selatan ini sangat menghipnotis saya untuk segera turun untuk menyentuh pasir dan air lautnya. Berhubung sudah hampir sore dan cuaca sangat bersahabat saya bermain di tumpukan pasir putih dan menikmati gradasi warna airnya. Air laut di Tanjung Bira terdiri dari 3 warna yang terbentuk karena tingkat kedalaman dan bisa kita lihat dengan mata telanjang. Keren!!! Snorkling dan diving adalah kegiatan yang bisa di lakukan di pulau kecil yang bernama Pulau Liukang tidak jauh dari Pantai Bira. Ada permainan banana boat untuk mengitari sebagian dari laut Bira. Selain menikmati warna air laut dan pasirnya, saat matahari terbenam adalah salah satu momen yang tidak akan terlupakan. Luar biasa indah.

Tidak hanya pesona pantai, Tanjung Bira juga menawarkan pengetahuan kepada saya, yaitu pembuatan Kapal Phinisi, kapal kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan yang sudah terkenal sejak lama. Di sini kita bisa melihat langsung kapal ini di kerjakan oleh tangan-tangan ahli, uniknya kapal ini di buat tanpa menggunakan paku dan tanpa bantuan alat-alat modern. Ajaib!! Walaupun terbuat dari kayu kapal ini sanggup menahan ombak dan badai di lautan , kekuatan mereka sudah terbukti dalam menjelajahi samudera serta imerupakan satu-satunya kapal kayu besar dari sejarah masa lampau yang masih di produksi sampai sekarang. Melihat Kapal Phinisi jadi ingat film Pirates of the Caribbean, dan ketika bersantai seolah kita berada dalam film itu.

Saya menginap di salah satu guest house sederhana bernama Salassa Guest House dengan tarif Rp. 120.000 permalam. Nyaman banget dan bersih, makanan yang di sajikan di masak langsung oleh Kak Santi sang pemilik, enak banget. Tapi butuh kesabaran, karena sedikit lama. Semua makanan segar, di masak saat kita pesan.  Ayam Rica-ricanya bikin kangen banget. Yang perlu di ingat, kendaraan umum di sekitaran Tanjung Bira belum terlalu banyak,  travel umum hanya jalan satu kali di pagi hari, dan bus Aneka dari Pulau Selayar pada jam 11 naik dari dermaga. Saat saya kesana, kembali ke Makassarnya melewati Bulukumba, naik kendaraan yang bawa barang dari Tanjung Bira ke Tanah Beru, kemudian lanjut naik angkot ke Bulukumba. Dari Bulukumba sudah banyak angkutan menuju ke Makassar. 

Tanjung Bira memang salah satu destinasi yang harus di kunjungi di nusantara Indonesia. Karena Tanjung Bira saya akan merencanakan perjalanan berikutnya mencari pantai-pantai cantik di Indonesia. Indonesia bagus. ^^



You may also like

No comments: