Pulau Karimun Jawa

/
0 Comments
Di samping dermaga sebuah pulau kecil sembari duduk, menatap ke langit yang berwarna, sedikit warna biru, dominasi warna kuning dan orens di hiasi oleh awan putih dan awan yang gelap, menikmati senja … Matahari perlahan turun ke tempat di mana ia akan membagi lagi sinar hangatnya di belahan bumi bagian lain.
Yeahhhhhh 3…..2…..1….. “Matahari menyentuh air!!!” teriakku. Dalam hitungan kurang lebih dari 30 detik sang matahari benar-benar sudah hilang di telan oleh laut. Tinggal sedikit cahaya yang perlahan juga mulai menghilang. 

Rasa lapar udah engga bisa di tahan lagi, berlari kecil menuju alun-alun kota kecil di mana banyak makanan tersaji. Tetep yang di cari pertama ubi goreng Ibunya Jamal kemudian semangkok mie ayam. Aroma ikan bakar sangat terasa menusuk hidung, dan menggugah selera sebagian orang. Tetapi engga untuk aku, mengingat sudah 2 hari berturut makan ikan bakar di pulau kecil di seberang sana. Dan aku emang ga terlalu suka ikan. Dalam waktu 10 menitan seluruh isi mangkok habis ku lahap. Eh iya, teman-teman lain juga begitu, kami ber enam.

Awalnya kami hanya bertiga nekat menuju ke Karimun Jawa, Sisi dan Vai kemudian bertemu dengan satu warga lokal Jamal serta 3 orang lain yang berasal dari tempat berbeda. Pertemuan itu di kapal yang akan membawa kami berkeliling ke pulau-pulau kecil. Selama dua hari kami bersama menikmati indahnya laut dan isinya, ikan-ikan bakar yang jadi menu makan siang, air kelapa, bir sampai telur bulu babi pun menjadi hidangan buat kita. Salah satu dari mereka aku sebut koko tua, masih muda tapi selalu sebut dirinya tua mungkin karena pengalaman hidupnya yang sudah sangat banyak, dia banyak tahu dan berbicara sangat detail serta ajarin kita berenang. Satu lagi yang menghindari kompor di saat liburan, tetapi pada akhirnya harus ikut membakar ikan-ikan untuk makan siang kita aku panggil Mas Yos. Yang paling anteng dan pendiam itu Hans, suaranya baru terdengar di hari terakhir. Kita berbicara seperti kita uda kenal lama, padahal baru beberapa jam yang lalu.

Ah hari pertama kemarin sedikit mengecewakan, air hujan membasahi kami saat bermain di pulau. Air laut juga menjadi keruh saat kami turun untuk melihat apa sih isi laut ini. Warna karang tidak terlalu cerah, ikan sedikit tapi ada ubur-ubur, dia sendiri, mungkin dia kesasar, tapi aku lebih memilih menghindar takut ntar di cium. Ini pertama kali aku mengintip isi laut, aku takjub, senang, suka tapi juga ada perasaan aneh, celah celah karang, ada apa ya di sana. Sekilas terbersit pengen masuk lebih dalam (diving) tapi apa aku berani. Ah lupakan dulu, lanjut aja menikmati yang bisa aku lihat. Untuk foto underwater, di suruh buka pelampung dan aku di tenggelamin. Waaaa panic panic panikkkk…. Untuk pertama kali di temenin sama Mas Yosi, wkwk selanjutnya jadi berani sendiri. Hehe…

Hari ini, hari kedua cuaca jauh lebih bersahabat, tapi orang-orang yang berangkat bersama kita sangat tidak bersahabat, mereka telat. Dan kami berenam mukanya udah ga berbentuk karena sewot. Sabar… Laut jauh lebih berwarna di bandingkan dengan kemarin, langit jauh lebih cerah dan hari ini semua terbayar. Snorkling sepuasnya, foto sepuasnya dan menyentuh ikan sepuasnya. Yeay… Tapi tetep ya kalo liat bulu babi itu kaya liat bom, di tambah lagi durinya yang panjang dan item.  Aku jatuh cinta sama laut. Sayang banget aku engga bisa berenang bareng sama kawan-kawan hiu. Cuma bisa gigit jari liat Mas Yos dan Sisi, cemburu berat. Tapi masih ada kawan lainnya ikan buntal, ikan pari dan bintang laut.  Nah, di tangkepin bulu babi sama bapak yang punya kapal dan Koko Tua pun beraksi, ngebelah dan mengeluarkan telur bulu babi. Disini di percaya telur bulu babi bisa menjadi obat kuat untuk pria, jadi jarang di konsumsi. Kalau dikota besar, ini merupakan salah satu menu di restoran makanan Jepang. Rasanya amis banget kalo belum mateng, tapi menjadi asam manis waktu uda matang. Aku nyobain karena penasaran. Habis itu langsung ngunyah coklat buat ngilangin amis. Aku ga hapal uda berapa pulau yang kami kunjungi selama dua hari ini. yang pasti aku sangat menikmatinya. 

Pulau Karimun Jawa, tidak hanya menawarkan pesona lautnya, salah satu bukit yang di sebut Bukit Joko Tuo, menjadi salah satu tempat untuk melihat matahari kembali ke peraduannya, ga kalah bagus dari dermaga lho. Joko Tuo itu nama ikan, ada rangkanya juga, berasa liat rangka dinosaurus. Hahaha tapi ini ikan :P. Malam ini kita ber tujuh termasuk Jamal menghabiskan sebagian dari malam duduk di sebuah cafĂ© aku lupa namanya apa. Ada ayunan hahay, sama seperti di Pulau Batu Topeng, cuma ayunan ini lebih bagus.  Demaga adalah tujuan terakhir di malam hari, melihat bintang. Ntah apa asiknya yak, tapi aku suka. Damai liat ada yang berkelap kelip di langit, menikmati angin malam. Sky Full of stars – nya Coldplay mengalun dari hp Mas Yosi di ikuti lagu lain. Lengkap deh malam ini.

Jam 5 pagi uda harus bangun dan beres-beres menuju ke dermaga, ngejar kapal untuk kembali ke Jepara. Tertulis kapal akan berangkat jam 8.00 WIB, tetapi realitanya apabila kapal penuh jam 6 pagi maka kapal akan berangkat. Jadi hati-hati yak, harus tiba lebih pagi. Rute kali ini mulai dari Semarang menuju Jepara kemudian naik kapal menuju ke Karimun Jawa. (14 Juni 2014)



You may also like

No comments: