Sore-Sore Kemarin

/
0 Comments
Warna orens mendominasi langit sore itu, di pinggir dermaga bersama sekaleng minuman aku duduk menatap senja. Dalam beberapa menit ke depan matahari akan kembali ke peraduannya dan mungkin besok akan kembali lagi, bisa jadi tidak seindah hari ini karena di temani oleh awan abu-abu. Kalengnya udah kosong, langitnya udah jadi gelap, berganti dengan sosok bulan dengan sinar tipis serta bintang yang muncul satu per satu. Entah berapa jam sudah di habiskan di sana, angin mulai menusuk-nusuk kulit, dinginnya berasa hingga ke tulang, hadeh jaket terlupakan.

Masih jam 7 malam, dermaga masih ramai, ada anak-anak yang belum cape bermain seharian, saling kejar, bercanda dan saling pukul, yahhh satunya nangis, lututnya berdarah, dia tersandung batu. Teman yang lain mencoba menolong, mengambil daun-daunan hijau di pinggir jalan kemudian di remas dan di taruh di atas luka. Sambil meringis menahan sakit, anak itu berusaha untuk bangun dan diiringi teman yang lain berjalan pulang menuju rumah. Mungkin dalam hati, selain meringis menahan sakit, bisa jadi dia juga ketakutan akan di marahi sama ibu atau ayahnya.

Humm aroma baso bakar, ah ada abang penjual baso bakar juga di sini, sekelilingnya lumayan ramai orang menunggu giliran untuk menyemil. Wajar saja basonya laris, cuma dia penjual cemilan di sana, eh ada satu lagi ternyata tapi dia hanya menjual minuman dan rokok. Ah mereka berbagi rezeki, biar adil. Sejenak aku melihat telepon genggamku, ah engga ada sinyal, celingak celinguk berharap di samping penjual baso dan minuman ada yang jualan sinyal. Tapi ternyata engga.

Di ujung dermaga ada yang sedang duduk, ada yang berdua-duaan, mungkin lagi berbagi cerita atau berbagi cinta, bisa juga berbagi duka, aku engga tau. Di ujung satunya lagi beberapa anak muda berkumpul, nyalain rokok aku rasa, karena ada asap mengepul dari kerumunan mereka. Sesekali terdengar suara tawa yang cukup keras. Aku yakin banget yang sedang berduaan merasa terganggu, karena mereka pindah mencari tempat yang lain. hahaha..

Nah di simpang jalan sebelum dermaga, parkir sebuah beca dayung, uda cukup tua, catnya luntur terkelupas di beberapa bagian, model sepedanya juga udah kuno, posisi atapnya juga udah bengkok sedikit. Ada bapak sedang duduk di atas beca, aku rasa dia menunggu penumpang yang udah lelah menghabiskan waktu di dermaga, atau  sampe sore begini dia belum dapat cukup uang untuk di bawa pulang, raut wajah lelahnya tergores jelas. 

Aih aku bener-bener mulai kedinginan, masih betah lama-lama di sini. Aku beli sekaleng minuman lagi, balik pulang ah. Aku minta di anterin aja sama bapak yang punya becak. Okei bapaknya minta 10000 Rupiah untuk biaya anterin aku pulang. Jarak ke rumah engga terlalu jauh, tapi uda malam, gak apa deh. Bapaknya, terpaksa narik beca di malam hari, karena pendapatan dari pekerjaannya di siang hari sebagai kuli bangunan engga cukup.  Tapi dia cukup bahagia anak-anaknya akan berhasil sebentar lagi. yang satu akan selesai kuliah, tinggal sidang, dan satunya lagi sudah semester enam. Suara lari-lari kecil si hitam udah terdengar, begitu buka pagar dia langsung melompat ke arahku. Si kecil kesayanganku, peluk dan ku gendong sampai masuk ke kamar. Ah mari rebahan .. 


You may also like

No comments: