Negeri di atas Awan Batutumongga

/
0 Comments

Negeri di atas awan sebutan untuk kampung yang bernama Batutumongga yang terletak di lereng Gunung Sesean di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Hal yang paling menarik dari daerah ini adalah menikmati pemandangan Tana Toraja dari ketinggian. Salah satu destinasi yang sudah aku wajibkan harus di kunjungi. Akses ke sini tidak mudah, jalanan yang cenderung menanjak dan tidak terlalu mulus, angkutan umum juga jarang, dan kami memilih untuk menggunakan sepeda motor yang di sewa. Angkutan umum dapat di cari melalui Pasar Bolu. 

Hujan sisa tadi malam membuat pagi ini terasa lebih dingin, jam 7.00 pagi selesai sarapan kami berangkat ke Batutumongga. Berharap hari ini akan cerah, jas hujan tidak ketinggalan dan jaket untuk melindungi badan. Masi meraba jalan dan bermodalkan bertanya pada penduduk kami menyusuri kota Toraja menuju ke Batutumongga. Wah jalannya menanjak dan berlubang serta tergolong sepi. Jarak waktu yang di tempuh sekitar satu jam lebih. Udara jauh lebih dingin dari di kota, tetapi matahari hari ini sangat bersahabat, cerah dan menghangatkan. Di Batutumongga, ciri khas Tana Toraja, rumah tongkonan dan kuburan batu bisa kita lihat di sepanjang jalan yang di lewati. Nah, pemandangan yang bagus banget akhirnya kita temukan. Awan-awan sudah berpencar, untuk melihat  negeri di atas awan harus tiba lebih pagi, saya dan teman-teman sudah kesiangan. Tapi tak mengapa, karena pemandangan alamnya sangat menyejukkan mata. Senang!! Tidak banyak yang bsia kita lakukan disini selain menikmati pemandangan. 

Perjalanan kemudian kami lanjutkan, dengan tujuan ke Lokomata yang merupakan kuburan batu yang masih di pakai hingga sekarang.  Batu-batu dengan ukuran besar di lubangi untuk menyimpan jenazah dan terletak di pinggir jalan, berbeda dengan kuburan batu lainnya seperti Londa dan Lemo. Di daerah ini, kita harus berhati-hati  untuk duduk atau melompati batu-batu besar yang ada, karena dominan batu tersebut adalah kuburan. Bori Parinding adalah tujuan kita berikutnya, disini kita bisa melihat batu menhir dalam jumlah yang cukup banyak. 

Diluar dugaan kita menemukan lokasi kuburan bayi, seperti Bayi Kambira di Tana Toraja. Wah, aku senang bukan main, penasaran rasanya ingin lihat pohon yang di jadikan kuburan, di sini namanya Pana. Berjalan lebih kurang 25 meter memasuki hutan kita bisa menemukan pohon yang di pakai untuk di jadikan kuburan. 

Batang pohonnya di lubangin, kemudian jenazah bayi di masukkan di dalam, menurut cerita bapak yang menjaga lokasi ini, bayi yang dikubur di bungkus dengan kain, dan biasanya tidak di adakan acara apapun kemudian di kuburkan oleh ayahnya. Janin yang belum jadi (akibat keguguran) juga di kuburkan di dalam. Ada kuburan batu juga, letaknya di tebing dan di batasi oleh jurang. Terlihat sangat tua dan sedikit menyeramkan, Kuburan ini sudah tidak di pakai lagi. 

Sepertinya kita uda mengitari lereng Gunung Sesean, dan tiba di desa Bori Parinding. Ada Tongkonan Batu dan disini kami bertemu dengan ibu Linpas, penduduk lokal. Ibu ini yang memberi tahu kami jalan menuju ke Batu Menhir, ternyata sudah tidak jauh dari komplek Tongkonan Batu.  Terdapat batu menhir atau megalit berjumlah sekira 102 dengan ukuran yang bervariasi 24 menhir berukuran besar, 24  sedang dan 54 menhir lainnya berukuran relatif kecil. Keberadaan batu menhir di lokasi ini adalah untuk menghormati pemuka masyarakat yang meninggal dunia. Tapi tidak sembarang orang dapat dibuatkan menhir atau biasa disebut simbuang batu ini. Simbuang batu hanya dibuat bagi mereka yang memenuhi tingkat Rapasan Sapurandanan, 
yaitu keadaan dimana kerbau yang dipotong pada upacara penguburannya minimal 24 ekor. Tradisi membuat simbuang batu ini telah dipraktekkan sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan catatan, Bori pertama kali dijadikan lokasi upacara pada 1657. Saat itu kabarnya sekira 100 ekor kerbau dikorbankan dan dua simbuang batu didirikan dalam upacara pemakaman Ne’Ramba’. Di tahun 1807, sekira 200 ekor kerbau dikorbankan dan 5 buah simbuang batu didirikan pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’. Menhir terbesar dan tertinggi di kawasan ini konon didirikan tahun 1935 pada upacara pemakaman Lai Datu (Ne’ Kase’).  Menhir terakhir yang didirikan di Bori tercatat di tahun 1962 pada upacara pemakaman Sa’pang (Ne’Lai).(sumber : wonderful Indonesia). Batu-batunya mengagumkan :) Nah disini juga ada uburan batu yang mirip dengan Lokomata.

Kami kembali ke kota bersama dengan Ibu Linpas, jalannya lebih dekat dan ternyata benar kami mengelilingi lereng gunung seharian ini. Di depan setiap Tongkonan batu utama ada tongkonan yang di pakai sebagai tempat penyimpanan padi (di jadikan lumbung padi). Setiap tamu yang datang akan di jamu di tongkonan batu utama, tetapi bila ada masalah dalam rumah tangga, maka keluarga akan bertemu dan bermusyawarah di tongkonan yang di pakai sebagai lumbung padi. Ibu Linpas bercerita banyak tentang tongkonan, tidak hanya itu kami di ajak untuk mengunjungi tongkonan milik keluarga mereka dan bisa di pakai untuk menginap lho. Pemandangan di sekitar tongkonan batu juga ga kalah menarik. Keren!! Sesampai di kota, kita di ajak untuk makan mi ayam. Ah ternyata ada mi ayam juga di sini, dan taadaaaa ini mi sop kalo di medan. Bihun dengan kuah ayam dan daging ayam goreng di suir halus serta dengan rasa yang engga jauh berbeda. mengobati sedikit kerinduanku tehadap Medan asalku. hehe.. Kami pun berpisah karena masing-masing akan melanjutkan perjalanan dengan tujuan yang berbeda. Aku sendiri akan menuju ke Enrekang. 


You may also like

No comments: