Enrekang dan Bone Bone Keren!!!

/
0 Comments
Beruntung ada plat kuning sehingga mudah untuk membedakan yang mana transportasi umum dan mana yang milik pribadi. Kendaraan pribadi dan umum sama bentuknya di Toraja.  Destinasi berikutnya adalah Enrekang sekitar 3 jam jarak waktu  dari Toraja.  Berhubung naik transportasi umum, di butuhkan waktu lebih dari 3 jam dan beberapa kali ganti angkutan.  Dari Rantepao, ke pusat kota Toraja, kemudian ke Cakke dan kemudian Enrekang.  Setibanya di Enrekang sudah sore. Udaranya dingin, karena masih terletak di dataran tinggi. Beruntungnya hari ini tidak hujan. Tidak banyak yang bisa di lakukan, apalagi hari sudah mulai gelap. Sehabis makan malam, saya di ajak untuk menghadiri pesta pernikahan. Kebetulan saya tinggal di rumah penduduk Enrekang. Pukul  delapan kami sampai di tempat pesta, banyak makanan yang di sajikan khas Sulawesi ada coto dan ada kue-kue tradisional.  Sambil ngemil saya memperhatikan keadaan pesta sekitar, ada pemain musik dan penyanyinya dan sanak keluarga serta orang kampung yang sibuk mengambil makanan dan menikmatinya. Pandangan saya tertuju pada pengantin, dia sendiri tanpa ada pria pendamping. Dalam hati saya berpikir mungkin sedang ke toilet pengantin prianya. Hampir setengah jam saya perhatikan, masih saja pengantin perempuannya sendiri. Penuh rasa penasaran saya bertanya pada tante yang mengajak saya, di mana pengantin prianya, wah ternyata pada saat pesta ini pengantin prianya tidak hadir. Pengantin pria hanya hadir di saat akad nikah nanti dan diadakan resepsi sekali lagi. Yang saya hadiri saat ini adalah resepsi sebelum menikah. Wah, baru pertama kali saya lihat seperti ini. Berbeda lokasi berbeda budaya, unik tapi menyenangkan.

Kabupaten Enrekang terkenal dengan hasil pertaniannya, sepanjang jalan pulang ke rumah saya melihat penduduk sekitar sedang merapikan bawang merah hasil panen, lagi musim katanya. Satu lagi yang khas dari daerah ini Dangke, keju lokal Enrekang, hasil fermentasi susu yang biasa di jadikan lauk atau di makan langsung. Keterbatasan waktu membuatku tidak bisa menjelajahi semua bagian kabupaten ini, di pagi hari yang cerah saya habiskan di “resting” tempat peristirahatan yang terletak di pinggir jalan.  Pemandangan yang di suguhkan benar-benar membuat nyaman, salah satu gunung yang terkenal  adalah Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya yang unik, yaitu menyerupai alat kelamin perempuan dan sering di sebut Gunung Nona.  Dominasi warna hijau, langit biru dan barisan gunung dan bukitnya sempurna. Sepanjang jalan menuju resting pemandangannya juga tidak kalah bagusnya. Keren!!!

Sebuah desa yang masih dalam ruang lingkup kabupaten ini menjadi salah satu tujuan utamaku yaitu Desa Bone Bone yang berjarak 50 km dari Enrekang.  Hal yang sangat menarik ini adalah satu-satunya desa yang bebas asap rokok, penghasil kopi dan beras pulut mandotti.  Pak Idris adalah pencetus awal menciptakan desa bebas rokok, awalnya sangat sulit, secara bertahap melalui musyawarah semua penduduk sepakat dengan idenya.  Pak Idris juga sering di undang dalam pertemuan nasional bahkan internasional berkaitan dengan prestasi desa bebas asap rokok. Kopi menjadi salah satu yang selalu di promosikan Pak Idris, kopi hasil Bone Bone enak rasanya dan pernah menang sebagai juara 1 kopi arabica terbaik saat kontes kopi di Bali pada tahun 2008.

Akses ke desa ini cukup sulit, dalam seminggu hanya ada 2 kali transportasi umum .  Jalanannya tidak terlalu bersahabat, jalanan bukit, tidak lebar dan berlubang. Di beberapa bagian jalanan di buat dari campuran semen. Satu momen yang saya ingat ketika ada mobil rusak di jalanan, mobil yang saya tumpangin benar-benar harus berhati-hati melewati mobil rusak tersebut,  jalanan sangat sempit dan jarak dengan jurang tinggal sedikit. Pembatas jalan tidak ada.  Tiba di Bone Bone kita menuju ke rumah Pak Idris, nah satu hal lagi sinyal telekomunikasi disini masih sulit, harus cari sinyal di tempat tertentu. Kita di sambut dengan kopi yang rasanya enak dan cemilan dari beras pulut mandotti, mirip dengan dodol.  Udaranya segar, desanya asri dan tenang.  Lagi-lagi keterbatasan waktu saya hanya bisa mengitari sedikit dari kampung ini. Tapi ini menyenangkan dan tidak akan terlupakan.  Pak Idris bercerita tentang proses terciptanya desa bersih ini, bahkan ada orang dari luar negeri sengaja datang untuk membuktikan konsistensi program ini.  Tidak berasa hari udah siang dan sebelum matahari terbenam kami harus sudah berada di Enrekang, mengingat jalan yang tidak bersahabat dan tidak ada penerangan di sepanjang jalan.  Wah kuburan batu juga ada di sini lho besar dan di batasi oleh sungai yang di sebut situs makam tontonan.  





You may also like

No comments: